[Vignette] Obsesi atau Dendam?

obsesi atau dendam

|| Obsesi atau Dendam? ||

Written by Ayumu-Chaan.

[17] Wen Junhui x [WJSN] Cheng Xiao

AU, Little bit’ Dark?;; Vignette;; PG-13

-ooo-

Aku benci dia.

Aku benci dia.

.

Aku benci saat dia menebarkan senyuman manisnya kepada orang-orang di sekitarnya.

Tidak boleh.

Senyuman manisnya itu hanya boleh ditunjukkan kepadaku seorang.

.

Aku benci saat dia memberikan bantuannya kepada orang lain yang meminta pertolongan.

Apakah dia terlalu polos?

Tidakkah ia tahu kalau orang-orang hanya memanfaatkannya dirinya?!

.

Aku benci saat dia begitu dekat dengan laki-laki lain. Ia begitu populer di antara kaum laki-laki. Banyak para lelaki yang mengungkapkan cinta kepadanya.

Tidakkah orang-orang tahu bahwa dia hanya milikku seorang?!

.

Aku benci dia.

Aku benci karena dia telah membuatku jatuh ke pelukkannya yang begitu dalam. Perasaanku kepadanya sudah tidak bisa terbendung lagi. Aku sangat menyukainya… Tidak.. Aku sangat mencintainya.

Aku ingin dia menjadi milikku. Hanya milikku seorang.

Tapi, hatiku begitu sakit ketika ia menolak perasaanku. Gadis itu menolakku sambil memperlihatkan senyuman manisnya. Bukankah itu sangat kejam?!

.

.

Januari 2014.

“Cheng Xiao, aku menyukaimu.”

Aku mengungkapkan perasaanku padanya di tengah keramaian kantin. Apa mungkin suaraku yang volumenya terlalu besar. Sehingga ucapanku membuat kantin seketika begitu hening. Tidak ada suara.

“E-ehm..”

Seorang gadis yang berusia dua tahun lebih muda dariku itu terdiam dan menatapku gugup.

“Ehm, sunbae menyukaiku?”

Aku mengangguk mantap. Kedua mataku menatap kedua iris hitamnya dengan intens.

Xiao terdiam. Gadis itu terlihat sedikit bingung.

“E-ehm.. Tapi, maaf sunbae. Terima kasih atas perasaanmu. Tapi, maaf aku tidak bisa menerimanya. Aku sudah menyukai orang lain.”

Seketika kantin yang semula hening ini menjadi ramai. Semua orang di kantin bertanya-tanya, siapa lelaki yang disukai oleh Cheng Xiao? Si gadis manis kelas satu yang begitu populer di sekolah ini.

Di saat orang sedang bertanya-tanya, aku hanya terdiam. Jadi, Xiao menolakku? Ia menolak perasaan tulusku ini? Kenapa?!

KENAPA?!

Aku menatap gadisku itu dengan senyuman pahit.

“Oke, tidak apa-apa. Aku paham. Semoga perasaanmu dibalas oleh orang yang kamu suka itu.”

Munafik.

Iya, katakan saja aku munafik.

            Padahal ucapanku itu aku ucapkan dengan tidak ikhlas. Aku berharap perasaan Xiao kepada orang lain tidak terbalas. Karena…

            Xiao hanya milikku seorang.

            Tidak boleh ada yang memiliki Cheng Xiao selain Wen Junhui.

            Xiao mengangguk sambil tersenyum manis. Oh, sial! Aku tidak suka senyumannya itu. Senyuman yang mampu membuatku jatuh terperosok begitu dalam ke pelukannya.

            Setelah itu aku pergi meninggalkan kantin. Masa bodoh bila aku melewatkan makan siangku dan membiarkan perutku kelaparan. Hal yang harus kulakukan sekarang adalah mempulihkan rasa sakit hatiku.

.

.

            Tapi, sekarang aku semakin membenci Xiao.

            Di usiaku yang berumur dua puluh tahun ini, aku sudah bekerja. Aku menjadi CEO di perusahaan milik ayahku. Aku menggantikan posisi pamanku yang menjadi CEO sementara karena ayahku sudah meninggal.

            Iya, kedua orangtuaku meninggal disaat aku berumur delapan tahun. Mereka meninggal karena dibunuh oleh seseorang. Dan aku.. Melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana sang pembunuh menggoreskan pisaunya kepada ayah dan ibuku.

            Lalu, apa hubungannya dengan Xiao?

            Sahabat ayahku menemuiku pagi ini. Lelaki itu menemuiku disaat aku sedang pusing mengerjakan pekerjaanku.

.

.

            “Wen Junhui? Bisa berbicara sebentar?”

            Aku menoleh. Seorang lelaki yang merupakan sahabat mendiang ayahku ini datang menemuiku. Lelaki itu memasuki ruangan kerjaku.

            “Ah? Paman Xu Han? Ada apa?”

            Ayahku memiliki sahabat dekat yang bernama Xu Han. Paman Xu Han ini memiliki anak yang bernama Xu Minghao. Aku berteman baik dengan anaknya.

            Lalu, Paman Xu Han duduk di kursi yang terletak di depan meja kerjaku.

            “Ehm, Junhui? Apakah kamu masih ingat bagaimana rupa pembunuh yang membunuh ayah dan ibumu?”

            Aku terdiam. Seketika memori masa kecilku kembali muncul kembali. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Bagaimana si pembunuh memukul, menendang, menggoreskan serta menusuk ayah dan ibuku dengan pisau tajam.

            Hal yang hanya bisa kulakukan saat terjadi pembunuhan tragis itu diam. Aku terdiam gemetar memandang peristiwa itu dibalik celah-celah pintu lemari pakaian yang tertutup.

            Aku sangat mengingatnya.

“Seorang lelaki,” ujarku dingin.

            Paman Xu Han mengambil salah satu map dari tasnya lalu memberikannya kepadaku.

            “Paman sudah menemukan pembunuh yang membunuh ayah dan ibumu. Kamu bisa melihatnya di map ini. Sekarang paman ingin pergi. Karena masih ada kerjaan yang harus paman lakukan. Tetap semangat, Wen Junhui!”

            Aku mengangguk-ngangguk. Lalu, ketika lelaki itu sudah keluar dari ruangan kerjaku. Aku segera membuka map itu.

            Di halaman pertama, terdapat beberapa macam foto lelaki yang tercetak besar. Ada satu foto yang menarik perhatianku.

            Sebuah foto yang memperlihatkan si pembunuh itu sedang menggendong seorang bayi kecil.

            “Rupanya pembunuh sepertinya masih memiliki hati,” ujarku sambil terkekeh.

Aku membuka halaman berikutnya. Di halaman tersebut terdapat profil lengkap lelaki itu seperti nama, tempat tanggal lahir, keluarga, dan lainnya.

            Nama pembunuh itu adalah Cheng ZiYin.

            …..

            …..

            Tunggu…

            “Cheng ZiYin?! Bukankah itu nama ayahnya Xiao?!” ujarku terkejut. Ya, bisa dibilang aku tahu segala hal tentang Xiao.

            Aku kembali membalikkan ke halaman sebelumnya dan memperhatikan foto tersebut baik-baik. Wajah lelaki itu mirip seperti Xiao.

            Jadi, gadis yang kusukai itu ternyata memiliki seorang ayah yang membunuh ayah dan ibuku?!

            Aku terdiam. Entah kenapa, aku merasa marah, benci, kesal, terkejut. Semuanya bercampur aduk menjadi satu. Aku tidak tahu harus bagaimana. Perasaanku pada Xiao masih sama. Walaupun dua tahun sudah terlewati.

            “Hahaha..”

            Tiba-tiba aku terkekeh. Sebuah rencana melintas di pikiranku. Rencana yang menurutku brillian.

***

            Esoknya..

Aku menatap objek yang tak jauh dariku. Seorang gadis yang sedang menunggu bus di sebuah halte. Gadis yang mengenakan seragam sekolahnya. Aku menatap gadisku itu dengan mataku yang tajam.

            Mata tajam yang begitu mempercikkan kemarahan. Auraku yang gelap begitu mengelilingi tubuhku saat ini.

            Gadis itu sempat menoleh ke arahku. Ya, jarak aku dengan gadis itu begitu dekat. Bisa dibilang, aku duduk di samping dia. Menunggu datangnya bus.

            Gadis itu atau Cheng Xiao kembali menoleh ke arahku. Gadis itu menatapku bingung. Lalu, ia kembali menolehkan wajahnya ke arah lain. Ehm.. Sepertinya Xiao sudah lupa dengan diriku. Si Wen Junhui, lelaki yang ditolaknya dua tahun yang lalu.

            Ketika bus sudah datang, aku dan Xiao sama-sama berdiri. Aku berjalan di belakangnya untuk memasuki bus. Tepat sekali. Sepertinya dewi fortuna sedang berpihak kepadaku. Bus ini hanya menyisakan dua tempat duduk. Itu berarti aku duduk dengan Xiao.

            Gadis itu duduk di kursi dekat jendela. Diikuti olehku yang duduk di sampingnya. Xiao kembali menoleh ke arahku lalu membuang pandangannya ke arah jendela.

Aku tersenyum menyeringai.

Sepertinya Xiao merasa gugup duduk dekat denganku. Apa mungkin karena aura dan mataku yang begitu tajam dan gelap ini? Mungkin.

Aku melirik Xiao dari ujung mataku lalu kembali tersenyum menyeringai.

Dulu, Xiao pernah menolakku, kan? Gadis itu membuat perasaan Wen Junhui hancur berkeping-keping.

Sekarang aku ingin membuat Xiao menyukaiku.. Tidak. Aku ingin membuat Xiao sangat mencintai diriku. Hingga Xiao bergantung kepadaku dan merasakan rasanya tidak hidup bila aku tidak ada di sisinya.

Aku hanya ingin balas dendam dengan ayah Xiao karena telah membunuh kedua orangtuaku.

Caranya?

Cheng Xiao harus menjadi milik Wen Junhui. Bagaimanapun caranya.

***

.

.

Jadi,

Menurut kalian..

Perasaan Wen Junhui kepada seorang gadis Cheng Xiao yang sekarang ini adalah sebuah …

Obsesi?

Atau..

Dendam?

.

.

-end-

HAHAHAHA.

Maafkan saya yang telah menistakan Jun disini. *sungkem sama fansnya Jun*

Btw, jangan lupa like sama comment, oke? ;D

Advertisements

3 thoughts on “[Vignette] Obsesi atau Dendam?

  1. zahrarafz says:

    Apaaaaa apaaan ini chingu lagi serius2 baca eh malah end..ckck -,-

    Lanjutin dong season 2 jngan ngegantung bgini jdi penasaran…wkwk

    Cinta, obsesi dan dendam di mix jadi satu tinggal tambah es batu segerrr tuh (?) lol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s