[Vignette] Basketball and Love?

|| Basketball and Love? ||

Written by Ayumu-Chaan

[PENTAGON] Jung Wooseok x [GFRIEND] Kim Yewon (Umji)

School-Life, Fluff?, Romance? || Vignette || PG-13

I just own plot and story.

-ooo-

Di tengah matahari yang bersinar terik itu, terlihat banyak sekali orang yang berlalu-lalang di lapangan basket itu. Lebih tepatnya sih, terlihat sepuluh orang siswa yang sedang berlari mengejar bola basket yang terlempar-lempar. Para siswa kelas XI-6 di School of Performing Arts itu dibagi menjadi dua tim untuk permainan olahraga bola basket. Tim A ada Lee Dongyeol, Jung Wooseok, Baek Seunghwan, Jung Chanwoo, dan Choi Vernon. Sedangkan di Tim B ada Lee Hwanhee, Kang Hyunggu, Moon Bin, Boo Seungkwan, dan Adachi Yuto.

Walaupun peluh keringat sudah bercucuran, para siswa tetap semangat dalam bermain. Dalam permainan ini juga bisa jadikan ajang unjuk kebolehan oleh para siswa untuk para siswi yang sedang duduk menonton di tepi lapangan.

“KYAAA! SEMANGAT SEMUA!”

“WOOSEOOOK!”

“CHANWOO SARANGHAE!”

“Itu kenapa Seungkwan disuruh main? Badan gempal kayak gitu kok.”

Para siswi kelas XI-6 saling menyemangati lelaki pujaannya. Hanya ada seorang gadis saja yang lebih memilih diam. Kim Umji namanya. Gadis bertubuh mungil itu memperhatikan para siswa yang sedang bermain dengan rasa sedikit tidak minat.

“IH, SEUNGKWAN! KALAU NGGAK BISA MAIN, MENDINGAN GULING-GULING DI LAPANGAN AJA DEH!”

Ugh.

Umji mendesah napas lelah ketika melihat teman di sampingnya, SinB yang berteriak dengan sangat keras menyemangati (atau menghina?) temannya yang bertubuh gempal itu. Ini yang membuat Umji merasa malas ketika berolahraga. Teman-teman perempuannya itu terlihat seperti singa buas yang mengaung ketika melihat mangsanya.

NICE SHOOT!”

Seketika semuanya bersorak dengan keras ketika melihat salah satu ace klub basket yang terkenal itu, Jung Wooseok melakukan tembakan jarak jauh. Setelah itu diiringi dengan bunyi peluit kencang tanda bahwa permainan telah selesai. Kini Tim A dinyatakan sebagai pemenang.

“Nah sekarang giliran siswi yang bermain!”

Guru Kim berseru kepada para siswi yang duduk di tepi lapangan itu. Banyak siswi yang mengeluh malas. Karena kebanyakan dari mereka tidak ada yang suka berolahraga. Apalagi permainan bola seperti ini, bagaimana bisa mereka bermain kalau tekniknya saja tidak mengerti?!

Guru Kim memperhatikan para siswi yang mulai berdiri dan bersiap itu. Tetapi ketika manik hitam guru itu melihat Umji yang juga ikut berdiri. Guru Kim langsung berjalan mendekatinya.

“Yewon-ssi? Jangan berolahraga dulu ya.”

Umji mengangguk mendengar ucapan Guru Kim yang selalu terulang setiap minggunya. Akhirnya gadis mungil itu kembali duduk tetapi posisinya agak menjauhi tempat duduk khusus laki-laki.

Umji memang memiliki tubuh yang lemah. Ia tidak boleh terlalu kecapekan. Berlari sedikit saja tubuhnya akan gemetar dan mungkin bisa pingsan saat itu juga. Padahal gadis itu ingin sekali berolahraga. Diam-diam hatinya sedikit menggerutu, bagaimana bisa dia memiliki tubuh yang selemah ini?!

Lalu permainan bola basket untuk tim putri dimulai. Kebanyakan dari mereka banyak yang bingung. Banyak juga yang panik ketika mereka menerima bola. Para siswa yang menonton di tepi lapangan itu tertawa ketika melihat tingkah gadis-gadis itu. Kebanyakan dari siswa pada memberikan ekspresi cengiran mereka. Lucu sekali ketika melihat pemandangan itu. Bagi para siswa, ketika melihat siswi bermain itu seperti ada sensasi tersendiri. Err..

“Hei! Jangan senyum-senyum mulu!”

Ucapan dari Hyunggu disertai dengan lemparan botol air minum kepada Wooseok membuat lelaki bertubuh tinggi itu sadar lalu menerima lemparan itu.

Wooseok terkekeh, “Kapan lagi bisa melihat kayak gini?”

“Benar juga sih.. Tapi senyumanmu itu lho yang kayak orang pedofil.” Sindiran telak dari Yuto membuat Wooseok hampir terjungkal dari tempat duduknya. Cih mentang-mentang tubuh Wooseok tinggi dan besar seperti anak kuliahan. Masa Wooseok tidak boleh tersenyum pada teman-teman perempuannya yang seumurannya dengannya itu?! Walaupun tampang Wooseok tidak terlihat seperti seumuran dengan mereka sih..

“YEIN SARANGHAE!”

Teriakan Chanwoo membuat para siswa menatapnya jengah. Mentang-mentang pacaran jadi bisa tebar kemesraan dimana saja. Tidak sadar apa banyak kaum jomblo disini.

“Sialan banget si SinB itu..” Sekarang giliran Seungkwan yang berbicara. Lelaki itu menggerutu kesal. Dia masih ingat banget ketika temannya itu berteriak menyemangati dengan nada menghina. Menyuruh guling-guling di lapangan? Gila banget idenya si SinB. Untung teman.

“Hoi, ngomongnya jangan keras-keras. Tuh sahabatnya nanti dengar.” Moonbin mengingatkan Seungkwan. Lalu lelaki itu sedikit menunjuk ke arah Umji yang sedang menatap teman-temannya perempuannya di lapangan itu.

Wooseok mengangkat sebelah alisnya.

“Dia tidak main lagi?”

Yuto menggeleng, “Bagaimana bisa mau main kalau tubuhnya saja lemah begitu. Terlalu beresiko untuknya.”

“Hm…” Wooseok mengangguk-ngangguk lalu kembali memperhatikan permainan kembali. Tapi terkadang Wooseok sedikit mengalihkan atensinya untuk menatap Umji yang duduk agak jauh darinya. Bukan rasa penasaran yang Wooseok berikan untuk gadis mungil itu. Hanya rasa simpati saja.

Menurut Wooseok, Umji adalah.. Hm.. Gadis yang bertubuh mungil, pipi tembam, pemalu, dan tidak terlalu mencolok. Walaupun ia memiliki kelemahan pada tubuhnya tetapi Umji adalah gadis yang pintar dan selalu meraih peringkat satu. Kalau Wooseok adalah kebalikan dari gadis itu. Wooseok pintar di olahraga tetapi otaknya agak payah dalam pelajaran.

“Sekarang siswa ganti baju dulu!”

Seruan dari Guru Kim membuat para siswa mendesah malas. Yaah, mereka akhirnya tidak bisa melihat siswi bermain lebih lama lagi. Lalu satu persatu dari mereka mulai meninggalkan lapangan bola basket.

-ooo-

“Aah, lupa!”

Wooseok menepuk dahinya. Lelaki itu baru teringat sesuatu. Ternyata ia meninggalkan botol mineral serta handuk kecilnya di lapangan.

“Mau kemana?” Hyunggu bertanya padanya.

“Ada sesuatu yang tertinggal di lapangan.” Balas Wooseok. Lalu lelaki itu segera melesat meninggalkan kelas dan menuju lapangan. Dia berlari sambil mengancingkan seragamnya yang belum terkancing semua (kecuali bagian kerahnya yang ia biarkan terbuka).

Sesampainya di lapangan, terlihat Guru Kim meniupkan peluit dan pertandingan pun berakhir. Wooseok buru-buru mengambil botol minum serta handuknya sebelum teman-teman perempuannya itu akan berlari menerjangnya.

“Wooseok!”

Baru saja Wooseok ingin meninggalkan lapangan tiba-tiba Guru Kim berjalan mendekatinya.

“Ah, ya? Ada apa?” Wooseok bertanya ketika Guru Kim mulai memanggilnya. Sebelum pria paruh baya itu memulai pembicaraannya dengan Wooseok, Guru Kim menyuruh para siswi untuk segera meninggalkan lapangan dan berganti baju.

“Tolong kumpulkan bola basket itu lalu masukkan ke keranjang ya. Saya ada urusan penting.” Perintah Guru Kim dibalas anggukan oleh Wooseok.

Sebelum memulai pekerjaannya, Wooseok meneguk air dari botolnya terlebih dahulu. Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang menarik atensinya saat ini.

Terlihat Umji yang tiba-tiba muncul di tengah lapangan setelah bersembunyi di suatu tempat. Gadis mungil itu memegang bola basket dengan gugup lalu mencoba melemparnya.

Brak

Umji melempar bola tersebut menuju ring. Disebut lemparan juga sepertinya tidak. Lemparannya terlalu payah. Bola basket itu hanya terlempar ke atas dengan tidak terlalu tinggi. Diam-diam Wooseok tertawa kecil melihat bakat yang menurutnya payah itu.

Baru saja Umji mencoba untuk kembali melempar bola, tiba-tiba saja sekelompok orang berjalan melewati lapangan membuat Umji buru-buru bersembunyi.

“Hah?” Wooseok mengangkat sebelah alisnya. Kenapa gadis itu malah bermain sembunyi-sembunyi? Sepertinya ia malu ya kalau dilihatin.

Wooseok tersenyum menyeringai. Bukan Wooseok namanya kalau tidak bertingkah jahil. Jadi diam-diam ia berjalan mendekati Umji dari belakang dan mengagetkannya.

“Hoi!”

Kejahilan Wooseok sukses membuat Umji memekik terkejut. Gadis ini langsung membalikkan tubuhnya. Kedua manik Umji sukses membulat sempurna ketika melihat Wooseok di belakangnya. Gadis itu buru-buru menundukkan kepalanya. Tingkahnya saat ini persis seperti pencuri yang tertangkap basah oleh tuannya.

“Aah.. Halo Wooseok-ssi..” sapa Umji gugup. Lalu gadis itu menjatuhkan bola basketnya dan memutuskan untuk pergi tapi ditahan oleh Wooseok.

“Mau kemana?”

“Te-tentu saja, a-aku ingin ganti baju..”

Umji kembali mencoba untuk pergi tapi tetap saja tubuh besar Wooseok terus menahannya. Lelaki itu tersenyum jahil.

“Kamu boleh ke kelas kalau sudah melempar satu kali bola tersebut ke dalam ring.”

“Hah?” Umji menganga.

“A-aku tidak bisa! Susah!” seru Umji panik. Melempar bola saja dia masih belum benar. Apalagi memasukkan bola tersebut ke ring?!

“Sesuatu akan menjadi mudah bila kita latihan.” Wooseok tiba-tiba mengeluarkan kata bijaknya. Hei, harusnya kata bijak itu ditujukan untuk dirinya sendiri juga! Wooseok merasa sulit dengan pelajaran matematika tapi lelaki itu malas latihan mengerjakan soal.

“Terima kasih.. Tapi aku tidak bisa.”

“Ck.” Wooseok berdecak. “Kamu ini mengerjakan soal fisika dan matematika yang sulit saja bisa! Masa melempar bola semudah ini saja tidak bisa.. Kamu hanya memerlukan tenagamu saja daripada repot-repot menggunakan otakmu.”

Ucapan Wooseok tepat sekali menancap ke hati Umji. Tapi sekarang gadis mungil ini merasa kesal. Wooseok benar-benar seorang lelaki yang pemaksa dan cerewet!

Umji mengerutkan keningnya. Bibirnya mengerucut kesal.

“Jangan samakan kemampuanku denganmu! Kalau dipikir-pikir, kemampuan otak itu lebih penting dibandingkan kemampuan tenaga yang pada akhirnya juga terbuang sia-sia.”

Kini malah giliran Wooseok yang terkena sindiran telak dari Umji. Tidak disangka seorang gadis pemalu seperti Umji ternyata pandai bersilat lidah juga. Menarik. Wooseok jadi penasaran. Sepertinya banyak sisi lain dari gadis mungil itu yang tidak ditunjukkan pada orang-orang.

“Oke lupakan..” Wooseok menghela napas lalu tangannya mengambil bola yang menganggur di lapangan.

“Bermain basket memang tidak langsung bisa dalam sehari. Tapi aku akan mengajarimu dribble. Setidaknya kamu harus mengerti dasarnya dulu.”

Wooseok lalu mulai memantulkan bolanya. Lelaki itu memberikan contoh dribble pada Umji. Setelah selesai, barulah Umji melakukannya. Pantulan pertama sampai pantulan ketiga berhasil. Tapi lama kelamaan pantulannya malah semakin pendek hingga pantulan yang terakhir mengenai ujung sepatunya.

“Payah sekali.” Gumam Wooseok pelan. Tapi setidaknya lumayanlah.

“Nah, setelah itu coba lempar bola tersebut ke dalam ring. Aku memberimu kesempatan tiga kali.” Ujar Wooseok.

Umji mengangguk lalu mulai mencoba. Lemparan pertama benar-benar sangat pelan dan tidak bertenaga.

“Coba lebih kuat lagi!” seru Wooseok.

Lemparan kedua lumayan. Setidaknya lebih baik dari lemparan pertama. Tetapi bola hanya terlempar ke tiang ring dan itu pun tidak terlalu tinggi.

“Hm..” Wooseok berpikir. Bila sudah ketigakalinya, itu berarti Umji akan pergi meninggalkan lapangan. Tapi rasanya tidak cukup menjahili Umji hanya sampai disini. Lalu terbesitlah sebuah ide yang muncul di pikirannya.

Wooseok tersenyum menyeringai. Ia mendekatkan dirinya pada Umji.

“Sepertinya tidak terlalu banyak kemajuan ya.. Kemampuanmu begitu payah. Kalau begitu akan aku bantu.”

“Gi-gimana caranya?” tanya Umji bingung.

Beberapa sekon kemudian, Umji merasa kakinya sudah tidak menapak pada tanah lagi. Kakinya melayang. Tiba-tiba Wooseok menggendongnya dari belakang dan refleks gadis itu melingkarkan tangannya di leher Wooseok.

“Ma-maaf…”

Umji bergetar gugup. Ia melepas rangkulan tangannya pada leher Wooseok. Sebagai gantinya, gadis itu mencengkram seragam Wooseok erat-erat sebagai penahan agar ia tidak jatuh.

“Tu-turunkan aku!”

“Tidak mau!”

Wooseok menjulurkan lidahnya. Ia sedikit menolehkan kepalanya belakang dan tepat sekali wajah Umji tepat berada di hadapannya saat ini. Tubuh Umji bergetar sambil kedua manik hitamnya itu berkali-kali menengok ke bawah. Tubuh tinggi lelaki yang menggendongnya saat ini membuatnya takut kalau ia tiba-tiba jatuh ke bawah. Pasti sakit sekali.

“Pengen dilepasin?”

Umji mengangguk.

“Lempar dulu bola basketnya hingga masuk ke ring. Baru aku akan menurunkanmu.”

Wooseok tersenyum penuh arti. Lalu ia mengeratkan gendongannya pada tubuh mungil itu. Diliriknya Umji lewat ujung matanya.

“Pegangan yang erat ya. Aku mau ambil bolanya dulu.”

Setelah itu Wooseok berlari cepat menuju ke salah satu bola yang tergeletak menganggur begitu saja. Wooseok menundukkan tubuhnya untuk mengambil bola tersebut. Diam-diam sebenarnya Wooseok modus. Saat Wooseok menundukkan tubuhnya itu membuat Umji kembali melingkarkan kedua tangannya di leher pemuda itu. Pipi tembamnya tidak sengaja bertabrakan dengan ceruk leher Wooseok membuat Umji merona malu. Pelukan Umji pada Wooseok benar-benar erat. Umji tidak ingin terjatuh dan jungkir balik gara-gara hal ini.

Barulah saat Wooseok kembali menegakkan tubuhnya, Umji baru bisa menghela napas lega.

“Ini bolanya. Nah, sekarang lempar.”

Wooseok memberikan bolanya pada Umji. Gadis mungil itu menerimanya dan dengan tangan gemetar ia mencoba melemparkan bola itu.

Brak!

Lemparan ketiga sukses dilewati. Sudah ada kemajuan karena Umji tepat memasukkan bola tersebut ke dalam ring.

“Nah, sekarang sudah bisa kan?”

Wooseok tersenyum tipis. Ditatapnya gadis mungil itu lewat ujung matanya. Ah, harus ada yang Wooseok lakukan dulu sebelum membiarkan gadis ini pergi.

“Hm..”

Wooseok menolehkan kepalanya ke belakang. Terlihat Umji yang kini sedang menatapnya ragu. Lelaki itu tersenyum menyeringai.

“Sudah dekat begini.. Sayang kalau dilewatkan begitu saja.”

Hah? Umji bertanya-tanya bingung. Kedua pipinya memerah ketika melihat Wooseok yang kini mulai mendekatkan wajahnya. Gadis itu tidak mengerti apa yang ingin dilakukan temannya yang tingginya sama seperti tiang listrik itu. Tetapi baru saja bibir Wooseok akan menyentuh bibir plum milik gadis mungil Umji. Tiba-tiba…

“Ehem.”

Terlihat Guru Kim yang menatap mereka berdua dengan tatapan tajam. Sedangkan di sekitar guru itu terdapat teman-temannya. Para siswa pada menatap Wooseok dengan tatapan penuh arti. Hampir semuanya berkata tanpa suara, “Cium! Cium! Cium!”

Sedangkan para siswi menatap pemandangan di depannya itu dengan shock. Haha, memang dasarnya perempuan adalah ratu drama.

“Yahh, nggak jadi deh. Dasar penganggu!”

Wooseok mengeluh sambil menurunkan tubuh Umji dari gendongannya. Guru Kim yang mendengar ucapan Wooseok itu pun langsung menghampirinya. Sebelum Guru Kim membiarkan tangannya itu akan menjitak kepala Wooseok yang sedang berdiri berhadapan dengan Umji itu. Tiba-tiba saja ada sesuatu tak terduga yang lain.

Wooseok menundukkan tubuhnya sedangkan tangan kirinya menarik tengkuk Umji agar mendekat padanya. Tangan kanannya ia lingkarkan pada tubuh gadis mungil itu. Pipi Umji yang sudah merona kini semakin memerah seperti udang rebus.

“Jung Umji.. Ah, atau Jung Yewon? Bolehkan aku memanggilmu seperti itu?”

Wooseok bermonolog karena lelaki itu tahu bahwa Umji tidak akan membalas ucapannya. Wooseok tersenyum penuh arti pada Umji.

Bruk!

Umji langsung pingsan di dalam pelukan Wooseok. Melihat tingkahnya itu membuat Wooseok terkekeh. Lucu juga gadisnya ini. Aah, sepertinya benih-benih cinta akan mulai muncul di antara mereka berdua.

.

.

.

-END-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s